IMPLEMANTASI JARINGAN NEURON McCULLOC-PITT PADA
HENRY CLASSIFICATION SYSTEM UNTUK
KLASIFIKASI POLA SIDIK JARI
Abstrak:
Klasifikasi sidik jari berdasarkan Henry Classification Sysfem merupakan sistem
klasifikasi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Setiap jari pada tangan kanan dan tangan kiri diberi nomor urut dan bobot sesuai dengan posisinya. Kelas atau grup pola sidik jari seseorang merupakan rasio bobot total jari-jari bernomor genap dengan bobot total jari-jari bernomor ganjil. Karena bobot yang digunakan menggunakan nilai kelipatan 2, maka operasi bilangan biner dapat dimanfaatkan untuk menentukan nilai kelas atau grup. Dalam paper ini jaringan neuron sederhana dari McCulloc-Pitt diimplementasikan untuk menentukan kelas atau grup dari suatu pola sidik jari berdasarkan Henry Classification Sysfem. Meskipun jaringan ini cukup sederhana dan tidak memerlukan pelatihan, namun karena sifat biner yang dimiliki oleh Henry Classification Sysfem, maka jaringan neuron McCulloc-Pitt dapat dirancang untuk menghitung kelas atau grup suatu pola sidik jari secara cepat.
Sidik jari sudah lama diyakini dapat digunakan sebagai alat identifikasi yang handal.
Keyakinan tersebut didasari pada premis bahwa sidik jari yang dimiliki setiap orang adalah unik dan tidak berubah. Sir William Herschel [1] seorang pionir dibidang penelitian sidik jari dari lnggris, pada tahun 1860 menyatakan bahwa pola sidik jari manusia sudah terbentuk sejak masih janin dalam kandungan dan tidak akan berubah seumur hidup kecuali karena luka yang serius maupun karena deformasi ketika sudah mati. Meskipun pembuktian terhadap premis ini hanya dilakukan dengan jumlah sampel yang terbatas, tetapi sampai saat ini premis tersebut masih diakuisecara luas.
Sifat unik dari sidik jari ini disatu sisi menguntungkan sebagai alat identifikasi seseorang, tetapi disisi lain mempersulit proses pencocokannya karena jumlahnya sebanyak orang yang diidentifikasi. Selain itu, kalau cara penyimpanannya tidak teratur maka proses pencocokannya akan semakin sulit dan memakan waktu. Salah satu usaha untuk menyederhanakan dan sekaligus mempercepat proses pencocokan sidik jari adalah dengan cara mengelompokkan atau mengklasifikasikannya berdasarkan ciri-ciri tertentu. Apabila klasifikasi sudah dilakukan maka proses pencarian akan lebih cepat karena pencariannya difokuskan pada kelas atau grup yang sesuai.
2. Henry Classification System
Ada sejumlah sistem klasifikasi yang telah diusulkan, tetapi salah satu sistem yang
sudah lama digunakan adalah sistem klasifikasi dari Sir Edward Henry yang kemudian dikenal dengan nama Henry Classification Sysfem 11, 21. Sistem ini dikembangkan oleh Sir Edward Henry antara tahun 1896 - 1897. Pada sistem ini setiap jari tangan diberi nomor urgt dari 1 sampai dengan 10. Penomoran dimulai dari jari-jari pada tangan kanan kemudian dilanjutkan pada jari-jari pada tangan kiri. Pada masing-masing tangan, penomorannya dimulai dari ibu jari dan berakhir pada jari kelingking. Dengan demikian ibu jari tangan kanan bernomor 1, telunjuk tangan kanan bernomor 2 dan seterusnya sampai kelingking tangan kanan bernomor 5. Untuk tangan kiri penomorannya juga dimulai dari ibu jari dan berakhir pada jari kelingking. lbu jaritangan kiri bernomor 6, telunjuk tangan kiri bemomot 7, dan seterusnya sampai jari kelingking
tangan kiri bernomor 1 0.
Berdasarkan penelitian pada saat itu sidik jari hanya terdiri dari 4 macam pola dasar,
yaitu Arch (lengkungan), Tent (tenda), Loop (kalang) dan Whorl(ulir) t1] tetapi dikemudian hari
banyaknya pola sidik jari dikembangkan menjadi B dengan melihat varisai dari masing-masing
pola dasar [4]. Meskipun ada lebih dari satu pola sidik jari tetapi yang dipakai sebagai acuan
pada Henry Classification Sysfem adalah pola Whorl
Tidak ada komentar:
Posting Komentar